Ummu Salamah

Ya Allah, sesungguhnya Engkau tahu, betapa aku sedang dalam kebimbangan. Aku menyayangi istriku Ummu Salamah, dan takut melukai hatinya. Istriku tengah sakit berat, dan sebentar lagi akan melahirkan. Ya Allah, aku tak sampai hati meninggalkannya. Tapi, sesungguhnya Engkau pun tahu, betapa panggilan jihad itu bergema di telingaku. Aku senantiasa rindu berjihad bersama Rasulullah. Ya Allah, betapa berat hatiku menghadapi pilihan ini.”

Abu Thalhah berdoa setengah merintih di atas tikar shalatnya memohon petunjuk Allah. Ia benar-benar gundah, lantaran harus memilih satu di antara dua pilihan yang sama beratnya, sama berartinya bagi dirinya. Abu Thalhah amat mencintai istrinya dan tak ingin meninggalkannya dalam keadaan sakit keras. Tapi, ia pun amat mencintai Jihad.

Rintihan dan doa Abu Thalhah ternyata didengar istrinya, Ummu Salamah, yang tengah berbaring sakit di tempat tidur. Ummu Salamah, atau lebih dikenal dengan Ummu Sulaim merasa tak enak hati. Ia merasa berdoa menyebabkan suaminya berada dalam keraguan untuk pergi berjihad.

Kepentingan pribadinya, keinginannya bermanja, dan dirawat oleh Abu Thalhah sang suami untuk sementara ia singkirkan demi menjunjung tinggi perintah jihad. Ia menolong suaminya untuk tetap memprioritaskan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kiranya kekuatan Allah jugalah yang membangkitkan Ummu Salamah dari sakitnya. Ia pun bangkit dari tempat tidurnya dan berkata lembut penuh senyum, “Ya Abu Thalhah, kini aku tidak sakit lagi, mari kita berangkat.” Maka berangkatlah Abu Thalhah bersama istrinya ke medan jihad. Kekuatan iman, ketabahan, dan ketegaran hatinya mengalahkan kelemahan fisiknya yang sakit. Di Madinah Ummu Salamah melahirkan anaknya dengan selamat. Abu Thalhah menyambut gembira kehadiran anaknya.

Waktu terus berlalu. Abu Thalhah harus memenuhi panggilan jihad, meninggalkan istri dan anaknya yang tengah sakit keras. Rupanya Allah amat mencintai Abu Thalhah dan keluarganya. Maka Allah pun menguji mereka. Anak satu-satunya yang mereka cintai di panggil ke “pangkuan”-Nya. Ketika musibah itu menimpa, Abu Thalhah tengah pergi berjihad.

Ummu Salamah tak segera memberitahukan kabar musibah ini kepada suaminya yang tengah memerangi kekafiran dan kemusyrikan di medan jihad. Ia khawatir suaminya akan meninggalkan medan perang, bila mendengar kabar itu.

Ketika Abu Thalhah pulang, ia pun tak segera memberitahukan kematian anaknya. Dilayaninya dulu suaminya yang dalam keadaan lelah itu. Setelah makan, minum, dan berhubungan suami istri, barulah Ummu Salamah memberitahukan kematian anak mereka. Abu Thalhah marah lantaran tak segera diberitahu. Ia pun melaporkan kasus ini kepada Rasulullah Saw. Ternyata Rasulullah membenarkan tindakan Ummu Salamah seraya mendoakan agar hubungan mereka di malam kesedihan itu membuahkan anak.

Ummu Salamah adalah profil wanita yang senantiasa rindu untuk melakukan pengorbanan. Ia justru merasa resah jika tak mendapatkan kesempatan untuk berkorban. Pernah suatu ketika Ummu Salamah amat merindukan untuk pergi berhijrah. Meski saat itu hijrah amat sulit, berat, dan penuh tantangan. Tapi, lantaran hijrah itu wajib, Ummu Salamah pernah menangis selama setahun di tempat penamapungan.

Ummu Salamah juga merupakan teladan bagi wanita yang rindu akan jihad. Bahkan, bila perlu ia pun turut berperang di medan jihad. Ia dijuluki tho’inah (wanita penikam) yang banyak menikam musuh-musuh Allah dengan belatinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Pernak-pernik Blog

  • Komentar

  • %d bloggers like this: