Hidup Mulia Atau Mati Syahid

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.”
(QS. Ali ‘Imran, 3:169)

Nabi saw. bersabda: “Orang-orang yang dianggap mati syahid yaitu orang-orang yang mati karena tenggelam, wabah, penyakit perut, atau terpendam hidup-hidup karena kejatuhan bangunan”. Kemudian beliau bersabda: “Seandainya manusia mengetahui pahala Isya dan Subuh niscaya mereka mendatanginya meskipun merangkak. Dan seandainya manusia mengetahui pahala shaf pertama kemudian ia tidak mendapatkannya kecuali dengan niscaya mereka berundi.”

Pada bulan Jumadi al-Ula tahun ke-8 Hijrah, Rasulullah saw. mengirimkan pasukan Islam kurang lebih 3000 prajurit ke daerah Mu’tah, yang berbatasan dengan Kerajaan Romawi. Saat itu, Rasulullah saw. berpesan tentang tongkat komando pasukan. Beliau saw. mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai komandan; jika Zaid gugur datam pertempuran, tongkat komando akan digantikan oleh Ja’far bin Abi Thalib; dan jika Ja’far gugur, tongkat komando akan dialihkan kepada ‘Abdullah bin Rawahah.

Di medan Perang Mu’tah, pasukan kaum Muslim bertemu dengan pasukan Romawi yang berkekuatan sekitar 100.000 prajurit. Pertempuran pun tidak terhindarkan dan berkecamuk dengan dahsyat. Dalam pertempuran tersebut, Zaid bin Haritsah syahid. Komando pun diambil-alih Ja’far, sebagaimana diperintahkan Nabi saw. Akan tetapi, Ja’far pun gugur sebagai syahid. Dengan sendirinya, tongkat komando beralih kepada ‘Abdullah bin Rawahah.
Jumlah pasukan kaum Muslim yang amat sedikit dan tidak seimbang itu mendorong beberapa anggota pasukan mengusulkan kepada ‘Abdullah bin Rawahah untuk meminta bantuan pasukan tambahan kepada Rasulullah saw. Mendengar usulan itu, ‘Abdullah bin Rawahah pun berpidato di hadapan pasukannya:

Wahai kaum Muslim, demi Allah, apakah kalian takut dengan kematian, padahal kalian telah keluar (ke medan perang) dalam rangka. memperoleh mati syahid? Sesungguhnya kita tidak berperang karena banyaknya tentara atau lengkapnya persediaan (canggihnya persenjataan dun tercukupinya logistik). Kita berperang datum rangka membela agama Islam. Oleh karena itu, berperanglah kalian. Kelak kalian akan memperoleh salah satu dari dua kemuliaan: mati syahid atau memperoleh kemenangan. (Bidâyah wa an-Nihâyah, juz IV, hlm. 241).

Dalam pertempuran tersebut, ‘Abdullah bin Rawahah pun gugur sebagai syahid. Kaum Muslim akhirnya sepakat memilih Khalid bin Walid sebagai panglima perang saat itu. Melalui taktik dan strategi jitu dari Khalid bin Walid, pasukan kaum Muslim terhindar dari kehancuran, dan pasukan Romawi menyingkir dari medan perang.

Tidakkah kita simak ucapan ‘Abdullah bin Rawahah, bahwa kaum Muslim bukanlah umat yang berperang karena banyaknya tentara, hebatnya dukungan logistik, ataupun canggihnya mesin perang. Umat Islam berjihad dalam rangka menjaga, meninggikan, dan menyebarluaskan ideologinya, yaitu Islam.

Kesimpulan :

  • Mati syahid merupakan cita-cita tertinggi umat Islam. Salah satu jalan menuju mati syahid adalah berjuang di jalan Allah.
  • Menurut istilah, syahid artinya berperang atau berjuang di jalan Allah membela kebenaran atau mempertahankan hak dengan penuh kesabaran dan keikhlasan untuk menegakkan agama Allah.
  • Siapa yang berjuang membela harta miliknya, jiwanya, keluarganya, agamanya, dan meninggal dalam perjuangannya itu, maka ia meninggal fi sabilillah atau mati syahid .
  • Isy kariman au mut syahidan“, hiduplah mulia atau mati syahid!. Kemuliaan hidup dan mati syahid hanya dapat digapai dengan satu jalan: berjuang di jalan Allah. (Sayid Qutb, Pejuang Islam dari Mesir)
    Al-Quran dan Sunnah sangat banyak dan sering sekali menggunakan kata jihad dalam makna pertempuran.
  • 6 keistimewaan yang mati syahid yaitu: diampuni dosanya sejak mulai pertama darahnya mengucur, melihat tempatnya didalam surga, dilindungi dari adzab kubur, dan terjamin keamanannya dari malapetaka besar, merasakan kemanisan iman, dikawinkan dengan bidadari, dan diperkenankan memeberikan syafa’at bagi 70 orang kerabatnya.
  • Barangsiapa yang mati di jalan Alloh, mati karena penyakit tho’un, mati disebabkan penyakit di perut, orang yang tenggelam, mempertahankan hartanya maka dia syahid.
  • Menentukan syahid bagi seseorang, dengan menta’yin bahwa dia syahid, tidak boleh kecuali yang disaksikan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam atau umat sepakat atas kesyahidannya.

Mr_Armen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

  • Pernak-pernik Blog

  • Komentar

  • %d bloggers like this: